Bitcoin Mengungguli Hampir Semua Aset Utama Selama 10 Tahun, Kini Visser Menyebutnya Sebagai ‘Anomali

bitcoin telah mengungguli hampir semua aset utama selama 10 tahun terakhir. kini, visser menyebut fenomena ini sebagai 'anomali' yang menarik perhatian para investor dan pengamat pasar.
Bagikan di:
Email
Facebook
Twitter
LinkedIn

Selama satu dekade terakhir, Bitcoin bergerak dari eksperimen teknologi menjadi topik yang tak bisa dihindari di pasar keuangan. Data kinerja jangka panjang memperlihatkan ia mengungguli hampir semua aset utama, membuat banyak pelaku pasar—dari investor ritel sampai pengelola dana besar—menilai ulang makna “risiko” dan “nilai”. Di tengah lonjakan inovasi AI yang justru menekan peluang return merata di saham-saham pertumbuhan, muncul narasi yang lebih tajam: Bitcoin bukan sekadar taruhan spekulatif, melainkan anomaly yang sulit dijelaskan oleh kerangka lama. Jordi Visser, analis makro yang dikenal vokal soal persilangan AI dan aset langka, menyebut Bitcoin sebagai lindung nilai “anti-decay”—penahan erosi imbal hasil yang bisa terjadi saat kompetisi AI mengompres margin dan valuasi di banyak kelas aset.

Di sisi lain, realitas investor modern tidak sesederhana memilih “saham teknologi atau kripto”. Rumah tangga kaya sering kali sudah punya eksposur besar ke aset fiat: properti, obligasi, saham indeks, bahkan bisnis yang bergantung pada konsumsi domestik dan nilai tukar. Ketika AI membuat keunggulan kompetitif cepat ditiru, return bisa terkonsentrasi di periode pendek, lalu melebar menjadi fase datar yang panjang. Dalam konteks seperti itu, wajar bila semakin banyak investor membicarakan Bitcoin sebagai jangkar kelangkaan yang tidak punya “pesaing produk” langsung, sekaligus sebagai aset global yang sensitif pada kebijakan likuiditas, adopsi institusional, dan dinamika pasokan.

Bitcoin mengungguli aset utama selama 10 tahun: mengapa kinerja jangka panjang terlihat seperti anomaly

Jika sebuah aset mampu mengungguli hampir semua aset utama selama 10 tahun, pasar biasanya mencari dua hal: penjelasan fundamental dan pembanding yang setara. Untuk Bitcoin, dua hal itu justru memunculkan kesan anomaly. Di satu sisi, ia bukan perusahaan dengan arus kas, bukan komoditas industri, dan bukan obligasi yang menghasilkan kupon. Namun di sisi lain, ia memiliki karakter yang makin relevan di era digital: pasokan yang terbatas, likuiditas global yang meningkat, dan narasi “aset netral” yang tidak melekat pada satu negara.

Dalam pembacaan Visser, anomali itu tidak berarti “tak masuk akal”, melainkan “tidak cocok dengan model lama”. Model alokasi tradisional sering menempatkan aset dalam kotak: defensif, pendapatan tetap, pertumbuhan, atau lindung nilai inflasi. Bitcoin merusak kotak tersebut karena bisa berperan sebagai aset pertumbuhan saat adopsi meningkat, sekaligus sebagai pelindung ketika kepercayaan terhadap sistem fiat melemah atau ketika investor ingin keluar dari risiko kebijakan. Ketika volatilitas jangka pendek menjadi sorotan, kinerja jangka panjang sering terlewat—padahal bagi banyak keluarga kaya, horizon 7–15 tahun justru yang menentukan keberlanjutan kekayaan lintas generasi.

Contoh yang terasa dekat: seorang pengusaha fiktif bernama Raka di Surabaya menjual sebagian saham perusahaannya pada 2016 dan menempatkan dana ke portofolio campuran. Ia membeli properti, reksa dana indeks, emas, dan sebagian kecil kripto. Pada fase-fase tertentu, ia menyesal karena Bitcoin jatuh tajam. Namun ketika ia membandingkan “nilai hari ini vs modal awal” setelah satu dekade, kontribusi Bitcoin terlihat tidak proporsional dibanding porsi awalnya. Cerita seperti Raka bukan bukti ilmiah, tetapi menggambarkan bagaimana efek compounding pada aset dengan tren adopsi global dapat mengubah profil kekayaan.

Faktor lain yang membuat Bitcoin tampak “aneh” adalah sifatnya yang sangat terhubung dengan arsitektur internet. Ketika akses ke bursa, kustodian, dan produk institusional membaik, friksi transaksi turun. Di banyak negara berkembang, pemahaman tentang nilai tukar dan risiko depresiasi mata uang juga membuat narasi “aset global” lebih mudah diterima. Pada titik ini, Bitcoin tidak hanya bersaing dengan aset investasi, tetapi juga dengan kebiasaan menyimpan kekayaan: dolar, emas, properti, atau tabungan lokal.

Untuk menjaga perspektif, investor perlu membedakan antara “kinerja 10 tahun” dan “jalan menuju kinerja tersebut”. Jalan itu penuh guncangan: siklus halving, perubahan regulasi, kepanikan likuiditas, serta euforia spekulatif. Justru karena guncangan itu, banyak pihak menyebut Bitcoin sebagai anomali: ia bertahan melewati beberapa generasi skeptisisme, dan tetap menjadi pusat percakapan tentang masa depan uang, cadangan nilai, dan infrastruktur pembayaran digital. Insight akhirnya: anomaly Bitcoin bukan sekadar angka return, melainkan kemampuannya bertahan dan berkembang di bawah tekanan narasi yang terus berubah.

bitcoin telah melampaui hampir semua aset utama selama 10 tahun terakhir. kini, visser menyebutnya sebagai 'anomali' dalam dunia investasi, mencerminkan performa unik dan keberlanjutan mata uang digital ini.

Visser dan tesis “anti-decay”: Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap kompresi return akibat AI

Jordi Visser mengajukan argumen yang terdengar berlawanan intuisi: AI yang seharusnya mendorong produktivitas justru bisa “membunuh” return yang nyaman di banyak aset pertumbuhan. Bukan karena AI buruk, melainkan karena ia mempercepat kompetisi. Saat kemampuan AI cepat menyebar—melalui model open-source, layanan cloud, dan integrasi vendor—keunggulan kompetitif menjadi rapuh. Hasilnya adalah kompresi margin dan penurunan “multiple” valuasi, sehingga imbal hasil di saham-saham pertumbuhan bisa terasa seperti pasir yang pelan-pelan terkikis. Di sinilah ia menempatkan Bitcoin sebagai lindung nilai anti-decay.

Visser menekankan bahwa investor kaya—yang sudah “menang” dalam permainan akumulasi—perlu melindungi hasil kemenangan itu dari erosi. Mereka biasanya memegang banyak aset fiat: portofolio saham besar, obligasi, properti, dan bisnis yang sensitif pada siklus. Jika AI membuat pertumbuhan menjadi komoditas (lebih mudah ditiru), maka “harga” pertumbuhan di bursa berpotensi turun. Bitcoin, dengan pasokan tetap dan tanpa pesaing yang bisa mencetak versi “lebih cepat” dari kelangkaan, dianggap sebagai tempat parkir modal yang ingin keluar dari erosi tersebut.

Contoh Nvidia dan pola return yang terkonsentrasi

Untuk menjelaskan idenya, Visser menunjuk kasus yang dikenal luas: Nvidia yang dalam dua tahun sempat bertumbuh kuat secara total, namun sebagian besar kenaikannya terkonsentrasi dalam beberapa bulan saja. Dalam periode lain, saham bisa bergerak datar meski laporan keuangan solid, karena pasar terus memindai ancaman kompetisi dan siklus permintaan. Menurut Visser, pola ini bukan anomali tunggal, melainkan sinyal: semakin AI menjadi arus utama, semakin banyak pemain mengejar bagian pasar, dan semakin cepat valuasi “dikompres” oleh ketakutan bahwa dominasi hari ini tak abadi.

Ia memperluas contoh itu ke saham infrastruktur AI lain, termasuk perusahaan chip memori dan jaringan. Bahkan perusahaan AI dengan pertumbuhan sangat cepat pun mulai menghadapi pertanyaan tentang ketahanan pertumbuhan ketika pesaing bermunculan. Jika pasar mulai percaya bahwa “semua orang bisa membangun AI”, maka return tidak hilang, tetapi menjadi lebih sulit dipertahankan secara konsisten. Dalam skenario demikian, kepemilikan Bitcoin bukan sekadar mengejar kenaikan, melainkan menyeimbangkan risiko bahwa aset-aset yang sudah dimiliki investor akan memberi hasil lebih kecil dari yang diharapkan.

Bitcoin sebagai “purest AI trade” versi Visser

Menariknya, Visser menyebut Bitcoin sebagai “perdagangan AI paling murni” karena AI mempercepat dunia menuju digitalisasi total: otomatisasi, pembayaran instan, tokenisasi, dan kompetisi global yang real-time. Ketika AI menekan margin bisnis, investor mencari sesuatu yang tidak bergantung pada margin korporasi. Bitcoin memenuhi itu: ia tidak punya laporan laba rugi, tidak menerbitkan saham baru, dan tidak menghadapi “disrupsi produk” yang dapat menyalip kelangkaannya. Insight akhirnya: dalam tesis Visser, Bitcoin adalah investasi yang bukan melawan AI, tetapi memanfaatkan dampak AI terhadap struktur return pasar.

Perdebatan soal target harga dan skenario makro juga ikut meramaikan wacana, misalnya lewat pembahasan target dari lembaga besar dan implikasinya bagi alokasi portofolio di ulasan target harga Bitcoin dari JPMorgan.

Bitcoin, nilai tukar, dan dinamika pasar keuangan: dari lindung nilai lokal ke aset global

Di banyak negara, investor tidak memikirkan inflasi dan suku bunga saja; mereka juga memikirkan nilai tukar. Ketika mata uang lokal melemah, harga barang impor naik, biaya pendidikan luar negeri meningkat, dan nilai aset domestik bisa terlihat “naik” padahal hanya terdistorsi oleh depresiasi. Dalam konteks itu, Bitcoin sering diposisikan sebagai aset global yang dapat diakses tanpa perlu rekening valas rumit. Ini menjelaskan mengapa adopsi kripto di Asia dan Amerika Latin sering mengikuti pola: lonjakan minat ketika terjadi tekanan mata uang, kontrol modal, atau ketidakpastian politik.

Namun, menyamakan Bitcoin dengan “dolar digital” juga tidak tepat. Bitcoin lebih sensitif pada siklus likuiditas global: ketika kondisi keuangan mengetat, aset berisiko sering terpukul; ketika likuiditas longgar, minat pada aset langka naik. Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah kedalaman pasar dan akses institusional. Produk seperti ETF spot di beberapa yurisdiksi dan layanan kustodian profesional membuat Bitcoin lebih mudah masuk ke portofolio formal. Bagi pengelola kekayaan keluarga, ini mengurangi risiko operasional yang dulu menjadi penghalang utama.

Studi kasus: keluarga dengan eksposur lintas mata uang

Ambil contoh keluarga fiktif Lestari yang punya usaha ekspor, aset properti di dua kota, dan anak yang kuliah di luar negeri. Mereka terpapar tiga hal: biaya operasional dalam rupiah, pendapatan dalam mata uang asing, dan kebutuhan pembayaran pendidikan dalam dolar. Dalam kondisi pasar tertentu, mereka justru rugi bukan karena bisnis turun, melainkan karena mismatch nilai tukar. Ketika mereka menambah porsi aset global—emas, sebagian saham luar negeri, dan sedikit Bitcoin—mereka tidak menghilangkan risiko, tetapi mengurangi ketergantungan pada satu rezim moneter.

Poin pentingnya: Bitcoin bukan solusi tunggal untuk masalah FX. Tetapi karena dapat diperdagangkan 24/7 dan bersifat lintas batas, ia memberi opsi tambahan. Investor yang disiplin sering menggunakannya sebagai bagian dari keranjang “aset global” untuk menghadapi skenario ekstrem: pelemahan mendadak mata uang, pembatasan transfer, atau lonjakan permintaan aset safe-haven. Sebagian orang bahkan memperlakukan Bitcoin sebagai asuransi portofolio—yang tidak selalu terasa berguna, sampai suatu hari diperlukan.

Daftar faktor yang biasanya mendorong minat Bitcoin di pasar keuangan

Berikut daftar pendorong yang sering muncul ketika Bitcoin kembali menjadi pusat perhatian di pasar keuangan:

  • Perubahan ekspektasi suku bunga yang memengaruhi likuiditas global dan selera risiko.
  • Tekanan nilai tukar di negara tertentu yang mendorong pencarian aset global.
  • Arus institusional melalui produk yang lebih mudah diakses (misalnya kendaraan investasi yang teregulasi).
  • Dinamika pasokan pasca-halving yang memperketat ketersediaan di bursa.
  • Sentimen risiko geopolitik yang meningkatkan minat pada aset non-sovereign.

Arus cerita seperti reli regional juga sering diulas oleh media; salah satunya pembahasan tentang pergerakan dan sentimen di Asia pada laporan reli kripto di Asia. Insight akhirnya: Bitcoin makin sering dipakai sebagai jembatan antara realitas lokal (mata uang, kebijakan) dan peluang global (kelangkaan digital).

Jika ingin melihat bagaimana perbandingan Bitcoin dengan aset lain dibahas saat momentum pasar menguat, ada pula analisis periode kinerja yang menonjol pada catatan pekan terbaik Bitcoin dibanding emas.

Portofolio “scarcity trade” dan praktik investasi: menempatkan Bitcoin tanpa terjebak narasi

Salah satu kontribusi praktis dari pandangan Visser adalah cara ia memetakan portofolio berdasarkan kelangkaan. Ia menyebut pergeseran bobot ke “scarcity trade”: Bitcoin, perak, dan logam mulia, sembari tetap menyisakan porsi lebih kecil pada infrastruktur AI. Pesan yang sering disalahpahami adalah seolah investor harus memilih “AI atau Bitcoin”. Yang ia tekankan justru bahwa AI mengubah struktur kompetisi, sehingga kepemilikan aset langka bisa menjadi penyeimbang ketika return aset pertumbuhan menjadi makin tidak merata.

Di dunia nyata, implementasi investasi tidak sesederhana memegang keyakinan. Ada batasan mandat, profil risiko keluarga, horizon waktu, dan kebutuhan likuiditas. Seorang investor berusia 30 tahun bisa menoleransi volatilitas lebih tinggi karena pendapatan masa depan masih besar, sedangkan investor 60 tahun fokus menjaga daya beli dan distribusi warisan. Visser membedakan dua kelompok itu: bagi yang lebih muda, Bitcoin dapat berperan ganda sebagai aset pertumbuhan dan lindung nilai terhadap “kelimpahan” (ketika AI membuat banyak hal murah dan cepat, nilai mungkin berpindah ke kelangkaan). Bagi yang lebih tua, ia lebih ditekankan sebagai pelindung dari erosi return aset fiat yang sudah mereka miliki.

Menilai porsi Bitcoin: dari “1–2%” ke kerangka yang lebih jujur

Visser mengkritik kebiasaan sebagian penasihat yang hanya merekomendasikan porsi 1–2% sekadar agar “punya eksposur”. Dalam praktik, porsi sekecil itu sering tidak mengubah hasil portofolio, tetapi tetap menambah kompleksitas. Kerangka yang lebih jujur adalah memulai dari tujuan: apakah ingin pertumbuhan agresif, diversifikasi global, atau perlindungan terhadap skenario ekstrem? Dari sana, porsi dapat ditetapkan dengan disiplin rebalancing, bukan karena FOMO.

Untuk membuatnya konkret, bayangkan portofolio keluarga Raka tadi: 50% saham, 20% obligasi, 20% properti, 10% aset alternatif. Jika ia memutuskan Bitcoin ada di “bucket pertumbuhan” dan bukan sekadar aksesori, ia bisa menempatkan porsi di dalam 10% alternatif itu, lalu melakukan rebalancing tahunan. Saat Bitcoin melonjak, ia menjual sebagian untuk mengunci keuntungan; saat turun, ia menambah dengan jumlah terukur. Pendekatan ini menjinakkan emosi, yang sering menjadi sumber kerugian terbesar investor ritel.

Tabel: kerangka peran Bitcoin dalam portofolio dibanding aset utama lain

Aset
Peran umum di portofolio
Risiko utama
Kapan biasanya diminati
Bitcoin
Pertumbuhan + diversifikasi global; versi Visser: lindung nilai anti-decay
Volatilitas tinggi, risiko regulasi, siklus likuiditas
Saat narasi kelangkaan menguat, arus institusional naik, atau tekanan nilai tukar
Saham indeks (aset utama)
Pertumbuhan berbasis ekonomi dan laba perusahaan
Kompresi valuasi, resesi, konsentrasi sektor
Saat pertumbuhan stabil dan kebijakan moneter mendukung
Obligasi pemerintah
Stabilitas, pendapatan tetap, penyeimbang risiko
Risiko suku bunga dan inflasi
Saat ketidakpastian tinggi atau suku bunga menarik
Emas
Lindung nilai tradisional, diversifikasi
Opportunity cost saat aset berisiko reli
Saat inflasi/risiko geopolitik meningkat
Properti
Nilai jangka panjang dan arus kas sewa
Likuiditas rendah, siklus kredit
Saat kredit longgar dan permintaan hunian kuat

Di lapangan, investor juga perlu memperhatikan sumber volatilitas. Banyak yang salah fokus pada grafik harian, padahal keputusan besar muncul dari disiplin: ukuran posisi, horizon, dan rencana saat skenario buruk terjadi. Insight akhirnya: menempatkan Bitcoin secara efektif berarti membangun proses, bukan sekadar membeli narasi.

Dari ETF hingga siklus volatilitas: bagaimana pasar memproses Bitcoin sebagai aset utama baru

Ketika sebuah aset bertransisi menjadi “lebih institusional”, yang berubah bukan hanya harga, tetapi cara pasar memproses informasinya. Bitcoin kini dibahas berdampingan dengan aset utama lain: saham blue chip, obligasi, dan komoditas. Perubahan ini terlihat dari meningkatnya produk yang memudahkan akses, bertambahnya penelitian dari firma besar, dan kebiasaan media finansial memasukkan Bitcoin dalam ringkasan harian. Namun menjadi lebih arus utama bukan berarti menjadi stabil; ia tetap bergerak dalam siklus volatilitas yang khas.

Volatilitas Bitcoin sering dianggap kelemahan, padahal ia juga sumber peluang bagi investor yang paham mekanisme siklus. Siklus itu dipengaruhi oleh pasokan baru yang menurun seiring waktu, arus modal institusional, dan perubahan rezim makro. Pada fase risk-on, Bitcoin bisa melesat karena menjadi proksi likuiditas. Pada fase risk-off, ia bisa turun karena investor mencari kas. Yang membedakan periode baru adalah kedalaman pasar: semakin besar partisipasi institusional, semakin sering pergerakan dipengaruhi oleh alokasi portofolio dan manajemen risiko, bukan sekadar euforia komunitas.

ETF, infrastruktur, dan perubahan perilaku investor

Kehadiran produk bergaya ETF (dan kendaraan serupa) mengubah perilaku investor. Banyak orang yang dulu enggan menyimpan kripto langsung kini bisa mendapatkan eksposur melalui instrumen yang terasa familiar. Dampaknya, aliran dana dapat masuk cepat pada minggu tertentu, lalu berhenti mendadak ketika sentimen berubah. Ini menciptakan pola “arus” yang penting dipahami: bukan hanya soal siapa yang membeli, tetapi kapan dan melalui saluran apa. Pembahasan soal produk investasi berbasis ETF juga sering disandingkan dengan aset lain; misalnya ulasan yang mengaitkan dinamika ETF pada pembahasan investasi ETF Bitcoin dan Ether.

Investor yang berpengalaman biasanya membaca arus ETF seperti membaca pasang surut: sebagai indikator permintaan marginal. Jika permintaan marginal naik sementara pasokan di bursa menurun, harga mudah terdorong. Sebaliknya, jika arus keluar muncul bersamaan dengan pengetatan likuiditas, koreksi bisa tajam. Ini bukan ramalan, melainkan cara kerja pasar.

Mengelola fluktuasi tanpa kehilangan arah

Karena Bitcoin sering bergerak cepat, strategi yang efektif cenderung sederhana namun disiplin. Beberapa investor menerapkan pembelian berkala untuk mengurangi risiko timing. Yang lain memakai batas rebalancing: misalnya ketika porsi Bitcoin melampaui batas tertentu akibat kenaikan harga, mereka mengurangi posisi agar risiko tidak membesar diam-diam. Bagi investor yang mengandalkan data, memahami fase fluktuasi menjadi penting; salah satu rujukan yang membahas perubahan ritme pergerakan adalah analisis Fundstrat soal fluktuasi Bitcoin.

Pada akhirnya, pasar menilai Bitcoin dengan dua lensa sekaligus: sebagai aset berisiko yang sensitif likuiditas, dan sebagai aset langka yang berfungsi sebagai alternatif dalam sistem fiat. Dua lensa inilah yang membuatnya tampak seperti anomaly—kadang bergerak seperti saham pertumbuhan, kadang seperti lindung nilai. Insight akhirnya: semakin Bitcoin diperlakukan sebagai bagian dari “set” aset global, semakin penting memahami mekanisme pasar yang membentuknya, bukan hanya kisah yang mengiringinya.

Berita terbaru