En bref
- Makassar menguatkan seruan agar Orang Tua membatasi Penggunaan Gadget pada anak usia sekolah dasar, sejalan dengan agenda perlindungan anak.
- Risiko yang disorot bukan hanya prestasi belajar, tetapi juga Kesehatan Anak, pembentukan karakter, hingga paparan konten berbahaya.
- Pemkot mendorong kolaborasi sekolah–keluarga–komunitas serta ruang bermain yang aman sebagai alternatif aktivitas offline.
- Literasi Digital ditekankan: anak perlu belajar memilah informasi, sementara orang tua perlu keterampilan mengawasi tanpa memata-matai.
- Kampanye publik seperti “30 menit main di luar” memberi contoh langkah sederhana yang bisa ditiru di rumah.
Di Makassar, perdebatan soal gawai pada anak tidak lagi berhenti pada pertanyaan klasik “boleh atau tidak”. Yang lebih mendesak adalah bagaimana keluarga dan kota ini membangun pagar pengaman agar anak-anak tetap bertumbuh sehat di tengah arus layar yang nyaris tak pernah padam. Pada peringatan Hari Anak Nasional di Tribun Karebosi, Wali Kota Munafri Arifuddin menekankan bahwa akses yang terlalu mudah terhadap telepon pintar membuka pintu ke pengaruh negatif yang dapat mengganggu tumbuh kembang, mental, dan karakter anak usia pendidikan dasar. Seruan ini bergema bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran atas kekerasan terhadap anak serta penyimpangan perilaku—isu yang kerap dikaitkan dengan paparan konten tanpa pendampingan. Di sisi lain, kampanye masyarakat dan brand, termasuk gerakan yang mengajak anak bermain di luar selama 30 menit, menegaskan bahwa solusi bukan sekadar melarang, melainkan mengalihkan: menciptakan rutinitas, ruang, dan budaya yang membuat aktivitas offline kembali menarik. Di balik semua itu, peran Orang Tua menjadi pusat: mengasuh, mendampingi, dan Waspadai tanda-tanda Kecanduan sejak dini—sebelum kebiasaan berubah menjadi masalah yang lebih berat.
Kampanye di Makassar: Seruan Orang Tua Waspadai Kecanduan Gadget pada Anak Usia Sekolah
Gelombang Kampanye tentang pengasuhan di era layar terasa kian nyata di Makassar. Di ruang publik, di sekolah, hingga di percakapan orang tua di teras rumah, topiknya sama: bagaimana menjaga anak tetap aman ketika perangkat digital menjadi “mainan” yang paling mudah diakses. Dalam peringatan Hari Anak Nasional di Tribun Karebosi, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menekankan pentingnya pembatasan gawai, terutama bagi anak usia pendidikan dasar. Pesannya tidak disampaikan sebagai kepanikan, melainkan sebagai sinyal bahwa kota sedang membaca risiko yang muncul di depan mata.
Alasan utamanya sederhana tetapi berat: anak menyerap apa yang dilihat. Ketika anak membuka video pendek atau gim tanpa filter, mereka bukan hanya menonton; mereka merekam dan meniru. Di sinilah pernyataan “tanpa saringan” menjadi kunci. Perangkat digital menampilkan banyak hal yang belum tentu sesuai usia, dan anak sering kali belum punya kemampuan menilai mana yang patut dan mana yang berbahaya. Itu sebabnya seruan Waspadai bukan berarti memusuhi teknologi, tetapi menempatkannya kembali sebagai alat, bukan pusat kehidupan anak.
Di Makassar, alarm sosial juga dipengaruhi laporan meningkatnya kasus kekerasan dan perilaku menyimpang pada anak. Ketika kota mencatat lebih banyak aduan, pemerintah tak bisa hanya memadamkan api satu per satu; perlu pencegahan. Dalam kerangka itu, pembatasan Penggunaan Gadget dilihat sebagai salah satu pintu masuk kebijakan. Pemkot bahkan mewacanakan duduk bersama lintas instansi untuk merumuskan langkah tegas, termasuk opsi pembatasan atau pelarangan gawai pada usia tertentu di jenjang dasar. Bagi sebagian keluarga, wacana ini terdengar ekstrem. Namun bagi keluarga yang sudah merasakan dampak layar—anak sulit tidur, mudah marah ketika diminta berhenti, atau mulai menyembunyikan aktivitas online—kebijakan tegas justru terasa seperti pegangan.
Dari “Generasi Emas 2045” ke Kebiasaan Harian di Rumah
Ketika pemerintah berbicara tentang target besar seperti Indonesia Emas 2045, itu sering terdengar jauh dari dapur rumah tangga. Tetapi pengingat Wali Kota menautkan keduanya: masa depan dimulai dari kebiasaan kecil hari ini. Seorang anak yang pintar secara akademik belum tentu siap menjadi pemimpin bila tidak punya etika, empati, dan tata krama. Karena itu, pengendalian gawai dibicarakan berdampingan dengan penguatan nilai.
Bayangkan keluarga fiktif di Tamalanrea: Ayah bekerja shift, Ibu mengurus rumah, anak kelas 4 SD punya tablet “untuk belajar”. Awalnya aman. Lama-lama, tablet menjadi teman utama sepulang sekolah. Tanpa aturan waktu, anak tidur larut, bangun sulit, dan mudah tersinggung. Ketika nilai turun, orang tua baru sadar bahwa masalahnya bukan pada tablet semata, melainkan pada absennya struktur: jam layar, jam belajar, jam bermain fisik, dan jam ngobrol keluarga. Di titik ini, seruan kota menjadi relevan: keluarga butuh kerangka, bukan hanya nasihat.
Kampanye yang Menggandeng Komunitas: Normalisasi Aktivitas Offline
Selain pesan pemerintah, kampanye masyarakat memperkuat narasi bahwa anak perlu ruang untuk bergerak dan berinteraksi. Gerakan “30 menit main di luar” yang sempat digelar di area stadion kampus di Makassar menonjolkan hal yang sering terlupa: tubuh anak butuh gerak, mata butuh istirahat dari layar, dan emosi butuh teman nyata. Ketika bermain di luar kembali menjadi “keren”, anak tidak merasa sedang dihukum karena gawai dibatasi; mereka merasa sedang mendapatkan pilihan yang lebih menyenangkan.
Insight akhirnya jelas: kebijakan kota, dukungan komunitas, dan rutinitas keluarga harus bertemu di titik yang sama—menciptakan ekosistem yang membuat anak tidak bergantung pada layar untuk merasa “hidup”.

Tanda Kecanduan Gadget pada Anak dan Dampaknya bagi Kesehatan Anak
Mendeteksi Kecanduan sejak dini sering kali lebih sulit daripada yang dibayangkan. Banyak orang tua merasa anaknya “hanya suka nonton” atau “cuma main gim untuk hiburan”. Padahal, masalahnya bukan pada aktivitasnya, melainkan pada pola: apakah anak kehilangan kontrol, apakah aktivitas lain tersingkir, dan apakah terjadi perubahan emosi yang tajam ketika akses dihentikan. Di Makassar, diskusi ini semakin penting karena penggunaan gawai kerap berlangsung di ruang privat—kamar tidur, sudut rumah, bahkan kamar mandi—yang membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri.
Gejala yang sering muncul tidak selalu dramatis. Ada yang halus: anak makin sulit diajak bicara, jawabannya singkat, dan cepat kembali menunduk ke layar. Ada juga yang tegas: tantrum saat gawai diambil, berbohong soal durasi pemakaian, atau diam-diam menghapus riwayat tontonan. Sinyal lain muncul dari tubuh: mata lelah, sakit kepala, postur membungkuk, hingga pola tidur berantakan. Semua ini berkaitan langsung dengan Kesehatan Anak, bukan hanya kenyamanan sesaat.
Memilah “Hobi Digital” vs Ketergantungan: Ukuran yang Bisa Dipakai di Rumah
Agar tidak terjebak pada stigma, orang tua memerlukan ukuran yang praktis. Bukan “anak harus nol layar”, tetapi “anak mampu berhenti dengan wajar”. Misalnya, jika anak diberi waktu 30–60 menit dan ia bisa menutup aplikasi tanpa drama, itu menunjukkan kontrol masih ada. Jika setiap transisi memicu ledakan emosi, kontrol mulai bergeser dari anak ke perangkat.
Contoh kasus: seorang anak kelas 2 SD di Panakkukang terbiasa menonton video pendek saat makan. Awalnya agar anak “mau makan”. Beberapa bulan kemudian, anak menolak makan tanpa video, dan durasi makan melar jadi satu jam. Ini bukan sekadar kebiasaan lucu; ini pola asosiasi: otak mengaitkan aktivitas dasar (makan) dengan stimulus layar. Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan menikmati aktivitas tanpa hiburan digital.
Dampak yang Sering Tidak Terlihat: Emosi, Moral, dan Relasi Sosial
Dalam banyak keluarga, dampak paling mengganggu bukan mata lelah, melainkan perubahan sikap. Anak mudah tersinggung, cepat bosan, dan sulit fokus pada tugas yang “tidak secepat” konten digital. Ada pula aspek moral: ketika anak meniru bahasa kasar, humor dewasa, atau perilaku agresif yang ia lihat, orang tua sering kaget karena merasa tidak pernah mengajarkan itu. Namun anak belajar dari apa yang paling sering ia konsumsi.
Di level sosial, anak yang terlalu lama di layar bisa kehilangan latihan bernegosiasi dengan teman: belajar menunggu giliran, kalah dalam permainan, atau menyelesaikan konflik kecil. Interaksi digital memang ada, tetapi sering tanpa nuansa tatap muka: ekspresi wajah, intonasi, dan empati langsung. Itulah sebabnya pembatasan Penggunaan Gadget sebaiknya dibarengi pengganti yang konkret: olahraga, klub membaca, atau permainan tradisional.
Tabel Praktis: Sinyal, Risiko, dan Respons Orang Tua
Berikut panduan ringkas yang dapat ditempel di kulkas atau dibagikan di grup orang tua sekolah. Tabel ini bukan diagnosis medis, melainkan alat refleksi untuk membantu keluarga bertindak lebih cepat.
Situasi yang Terlihat |
Risiko Utama |
Respons Cepat di Rumah |
|---|---|---|
Anak marah berlebihan saat gawai diminta berhenti |
Kontrol diri melemah, ketergantungan meningkat |
Tetapkan aturan waktu tetap, gunakan pengingat 10 menit sebelum berhenti, konsisten tanpa negosiasi panjang |
Anak berbohong/menyembunyikan aktivitas online |
Kepercayaan rusak, potensi paparan konten berbahaya |
Bangun dialog tanpa menghakimi, pindahkan penggunaan ke ruang keluarga, pasang kontrol orang tua seperlunya |
Sulit tidur, bangun lemas, mengantuk di sekolah |
Gangguan ritme sirkadian, konsentrasi menurun |
Buat “zona bebas layar” 1–2 jam sebelum tidur, ganti dengan rutinitas membaca/cerita |
Keluhan mata tegang, sakit kepala, postur membungkuk |
Masalah fisik, kebugaran menurun |
Atur jeda 20-20-20 (istirahat mata), tambah aktivitas luar ruangan, cek pencahayaan dan jarak layar |
Minat pada permainan fisik dan teman menurun drastis |
Isolasi sosial, emosi mudah labil |
Jadwalkan bermain di luar, ajak teman sebaya, daftarkan kegiatan komunitas yang disukai anak |
Insight akhirnya: tanda paling penting bukan durasi semata, melainkan hilangnya fleksibilitas—ketika layar menjadi satu-satunya cara anak merasa tenang dan senang.
Untuk memahami lanskap masalah secara lebih luas, pembahasan berikutnya mengarah pada kebijakan dan peran sekolah, karena rumah tidak mungkin bekerja sendirian.
Kebijakan dan Peran Sekolah di Makassar: Pembatasan Penggunaan Gadget, Etika, dan Perlindungan Anak
Ketika pemerintah kota menyebut kemungkinan pembatasan hingga pelarangan gawai pada usia tertentu, itu menunjukkan perubahan pendekatan: dari imbauan moral menjadi tata kelola. Dalam konteks Makassar, ide ini muncul bersamaan dengan perhatian pada meningkatnya kasus kekerasan dan pelanggaran terhadap anak. Argumennya: jika akses digital tanpa pendampingan menjadi salah satu faktor pemicu perilaku berisiko, maka aturan di sekolah dapat menjadi pagar yang seragam—setidaknya pada jam belajar.
Sekolah memiliki posisi unik. Anak menghabiskan banyak waktu di sana, dan sekolah mampu membangun budaya kolektif: apa yang dianggap “normal”. Jika semua teman membawa ponsel ke kelas, tekanan sosial terbentuk; anak yang tidak membawa akan merasa tertinggal. Namun jika sekolah menegakkan aturan “ponsel disimpan”, norma bergeser: fokus belajar dan interaksi langsung kembali menjadi standar.
Larangan vs Pengaturan: Model yang Lebih Realistis
Di lapangan, kebijakan yang paling bekerja sering bukan “hitam-putih”, melainkan pengaturan bertahap. Untuk kelas rendah, kebijakan ketat bisa diterapkan: gawai tidak dibawa kecuali ada kebutuhan khusus dan izin. Untuk kelas yang lebih tinggi, pengaturan bisa berupa “jam dan tempat”: ponsel boleh untuk tugas tertentu di bawah pengawasan guru, lalu kembali disimpan.
Contoh sederhana: guru memberi tugas mencari informasi tentang sejarah Karebosi atau budaya Bugis-Makassar. Anak boleh menggunakan perangkat selama 15 menit di kelas, lalu diminta menuliskan hasil dengan kata-kata sendiri. Dari sini, dua tujuan tercapai sekaligus: perangkat menjadi alat, dan anak belajar menyaring informasi. Ini jembatan menuju Literasi Digital yang sehat.
Penguatan Kurikulum: Akhlak, Etika, dan Nilai Lokal
Wali Kota juga mendorong penambahan porsi pendidikan akhlak, etika, dan tata krama dalam kurikulum dasar. Gagasannya relevan karena dunia digital sering mempercepat anak meniru gaya bicara dan perilaku tanpa mempertimbangkan sopan santun. Menghidupkan nilai lokal seperti Siri’ (rasa malu/harga diri) dan Tabe (ungkapan hormat) bisa menjadi cara membumikan etika dalam bahasa yang dekat dengan keseharian anak Makassar.
Nilai ini bukan nostalgia. Dalam praktik, guru bisa mengaitkannya dengan situasi modern: bagaimana meminta izin sebelum memotret teman, bagaimana tidak menyebarkan video orang lain, dan bagaimana bersikap sopan di grup kelas. Dengan begitu, etika tradisional bertemu tantangan digital secara konkret.
Peran Guru PAUD dan Sensitivitas Perkembangan Anak
Seruan kepada guru dan pembina PAUD agar mengajarkan perbedaan peran dan ekspresi dalam aktivitas seni menyinggung isu yang sering sensitif. Pesan utamanya adalah kehati-hatian: pendidikan usia dini perlu membantu anak mengenal identitas diri tanpa memaksa mereka memainkan peran yang membuat bingung atau tertekan. Dalam konteks era konten, anak bisa terpapar tren yang mengaburkan batas usia dan peran; sekolah perlu menjadi ruang aman untuk bertanya dan memahami, bukan ruang yang memperkeruh.
Yang menentukan bukan sekadar materi, melainkan cara. Guru dapat menggunakan pendekatan berbasis rasa hormat: memberi pilihan, menjelaskan alasan, dan menguatkan bahwa setiap anak berharga. Ketika sekolah mempraktikkan komunikasi yang sehat, orang tua pun punya contoh bagaimana berbicara tentang isu rumit tanpa marah-marah.
Kolaborasi Lintas Instansi: Dari Aturan ke Perlindungan Nyata
Wacana duduk bersama lintas instansi penting agar kebijakan tidak berhenti di kertas. Dinas pendidikan, dinas perlindungan anak, puskesmas, hingga komunitas perlu menyepakati alur penanganan jika anak menunjukkan masalah: siapa yang menghubungi keluarga, kapan perlu konseling, dan bagaimana menjaga kerahasiaan anak. Dengan alur ini, pembatasan gawai tidak menjadi hukuman, melainkan pintu masuk perlindungan.
Insight akhirnya: sekolah yang tegas pada aturan, tetapi hangat pada pendampingan, memberi anak pengalaman bahwa batasan itu bentuk perhatian—bukan penolakan.
Pembahasan berikutnya bergerak ke ranah keluarga: bagaimana orang tua membangun “chemistry” dan aturan yang tetap manusiawi di rumah.

Strategi Orang Tua: Membangun Chemistry, Aturan Layar, dan Literasi Digital di Rumah
Di banyak rumah, konflik soal gawai bukan terjadi karena anak “bandel”, melainkan karena aturan berubah-ubah. Hari ini boleh dua jam karena orang tua lelah, besok dimarahi karena dianggap kebablasan. Anak menangkap ketidakpastian itu dan belajar menawar. Karena itu, pesan tentang membangun chemistry keluarga menjadi sangat relevan: kedekatan emosional memudahkan aturan dipatuhi tanpa perang setiap hari.
Chemistry bukan konsep abstrak. Ia terlihat dari rutinitas kecil: makan bersama tanpa layar, ngobrol sebelum tidur, dan kebiasaan orang tua mendengar tanpa memotong. Ketika anak merasa aman bercerita, pengawasan digital berubah bentuk: bukan mengintai, melainkan mendampingi. Anak lebih mungkin berkata, “Tadi aku lihat video yang aneh,” jika ia yakin tidak akan langsung dimarahi.
Aturan yang Efektif: Spesifik, Terukur, dan Disepakati
Aturan paling kuat biasanya sederhana. Misalnya: gawai hanya boleh di ruang keluarga, bukan di kamar. Atau: maksimal 60 menit di hari sekolah, 90 menit di akhir pekan. Tambahkan syarat yang masuk akal: tugas sekolah selesai, mandi sudah, dan ada aktivitas fisik minimal 30 menit. Anak perlu tahu urutannya, bukan sekadar larangannya.
Di sini, konsistensi adalah kunci. Jika orang tua menetapkan batas tetapi kemudian melanggar karena “kasihan”, anak belajar bahwa batas bisa dinegosiasikan dengan drama. Lebih baik orang tua menetapkan target yang realistis dan benar-benar sanggup ditegakkan.
Daftar Praktik Harian yang Membantu Mengurangi Risiko Kecanduan
Berikut daftar tindakan yang bisa diterapkan bertahap. Kuncinya: pilih dua atau tiga dulu, jalankan selama dua minggu, baru tambah.
- Zona bebas layar di meja makan dan satu hingga dua jam sebelum tidur.
- Aturan tempat: penggunaan perangkat hanya di ruang keluarga agar pendampingan natural.
- Ritual transisi: beri peringatan 10 menit sebelum waktu habis, lalu tawarkan aktivitas pengganti (bola, menggambar, membaca).
- Kurasi konten: buat daftar kanal/video ramah anak, jelaskan alasan konten tertentu tidak boleh.
- Teladan orang tua: letakkan ponsel saat berbicara dengan anak, karena anak meniru kebiasaan, bukan slogan.
- Jadwal akhir pekan yang memuat aktivitas fisik dan sosial: bersepeda, pasar pagi, atau kunjungan ke rumah keluarga.
Literasi Digital: Mengajari Anak “Cara Berpikir”, Bukan Sekadar “Apa yang Dilarang”
Literasi Digital sering disalahpahami sebagai kemampuan memakai aplikasi. Padahal intinya adalah kemampuan memahami risiko dan membuat keputusan. Anak bisa diajari pertanyaan sederhana: “Siapa yang membuat video ini?”, “Apa tujuan orang itu?”, “Kalau aku meniru, apa akibatnya?”. Pertanyaan seperti ini melatih filter internal, sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar blokir.
Contoh dialog: ketika anak melihat konten prank yang mempermalukan orang, orang tua bisa bertanya, “Kalau kamu jadi orang yang dipermalukan, rasanya bagaimana?” Dari sini, pendidikan empati berjalan. Anak belajar bahwa tidak semua yang viral layak ditiru.
Ketika Masalah Sudah Terlanjur Berat: Langkah Penanganan yang Tidak Menghakimi
Ada kondisi ketika anak sudah berada di tahap sulit: menarik diri, menolak sekolah, atau agresif saat akses diputus. Pada tahap ini, orang tua perlu menurunkan suhu emosi. Hindari mempermalukan anak di depan keluarga besar. Fokus pada pemulihan ritme: tidur, makan, aktivitas fisik, dan komunikasi.
Jika perlu, libatkan guru BK atau konselor anak. Tujuannya bukan memberi label, melainkan membuat rencana bertahap yang bisa diukur. Anak juga perlu merasa dilibatkan: “Kamu maunya kita atur bagaimana supaya kamu tetap bisa main, tapi juga sehat?” Ketika anak diberi peran, ia lebih mudah bertanggung jawab.
Insight akhirnya: aturan layar yang berhasil selalu berdiri di atas relasi yang hangat—karena anak patuh bukan semata takut, tetapi karena merasa dipahami.
Setelah rumah dan sekolah, lingkar berikutnya adalah kota: fasilitas publik, transportasi, dan kampanye sosial yang membuat pilihan sehat menjadi lebih mudah.
Ekosistem Kota: Ruang Bermain, Transportasi, dan Kampanye Sadar Gadget untuk Masa Depan Anak Makassar
Keluarga dapat membuat aturan, sekolah bisa menegakkan disiplin, tetapi tanpa dukungan lingkungan, perubahan sering tidak bertahan lama. Karena itu, arah kebijakan kota yang menyebut pembangunan ruang terbuka publik, penambahan armada bus sekolah, dan penguatan kampanye melalui jejaring PAUD menjadi penting. Ini bukan proyek kosmetik. Ini intervensi yang mengubah pilihan harian keluarga.
Ruang terbuka publik yang aman, terang, dan ramah anak menggeser kebiasaan. Anak yang punya tempat bermain dekat rumah akan lebih mudah diminta “main di luar” daripada anak yang hanya punya gang sempit dan lalu lintas padat. Orang tua pun lebih tenang melepas anak beraktivitas fisik ketika ruangnya didesain dengan pagar, pengawasan, dan fasilitas dasar seperti toilet serta air bersih.
Ruang Publik sebagai “Pengganti Layar” yang Nyata
Dalam banyak kasus, gawai menjadi pilihan karena praktis: anak diam, orang tua bisa menyelesaikan pekerjaan. Maka, ruang publik harus menyaingi “kepraktisan” itu dengan menawarkan kemudahan akses. Taman yang dekat, jadwal kegiatan komunitas, dan acara olahraga keluarga membuat aktivitas offline tidak terasa merepotkan.
Bayangkan satu sore di Karebosi: ada kelas lompat tali, permainan tradisional, dan sudut membaca. Anak datang bukan karena disuruh berhenti main gawai, tetapi karena penasaran melihat teman-temannya berkegiatan. Orang tua pun mendapat ruang bertukar cerita: aplikasi apa yang aman, bagaimana memasang pengaturan, dan bagaimana menghadapi anak yang menolak aturan. Dari sini, Kampanye tidak terasa seperti ceramah, melainkan budaya bersama.
Transportasi Sekolah dan Waktu Keluarga
Penambahan bus sekolah terdengar tidak berkaitan dengan gawai, tetapi dampaknya nyata. Ketika transportasi lebih tertata, waktu keluarga bisa lebih terprediksi: anak tidak kelelahan di jalan, orang tua tidak stres menjemput, dan ada ruang untuk rutinitas sore seperti olahraga atau belajar. Stres keluarga yang menurun sering membuat konflik soal layar ikut berkurang.
Di banyak rumah, anak diberi ponsel saat menunggu jemputan atau terjebak macet. Jika kota mengurangi waktu tunggu melalui transportasi yang lebih baik, salah satu “celah layar” otomatis mengecil. Ini contoh bagaimana kebijakan kota dapat memengaruhi kebiasaan digital tanpa perlu memeriksa ponsel setiap anak.
Peran Pokja Bunda PAUD dan Komunitas: Kampanye yang Menyentuh Rumah Tangga
Jaringan orang tua PAUD memiliki kekuatan yang sering diremehkan: mereka berada paling dekat dengan keluarga muda. Saat Pokja Bunda PAUD mendorong kampanye sadar gawai, pesan bisa disampaikan dalam bahasa yang membumi: bagaimana menenangkan balita tanpa video, cara memilih tontonan, dan pentingnya bermain sensorimotor. Diskusi semacam ini efektif karena terjadi antar sesama orang tua, bukan hanya dari otoritas ke warga.
Komunitas juga dapat membuat “paket aktivitas” murah: lomba menggambar, klub sepak bola mini, atau kelas memasak untuk anak. Jika anak punya agenda sosial yang rutin, ketertarikan pada layar sering turun secara alami. Kuncinya adalah kontinuitas—bukan acara sekali lalu hilang.
Menghubungkan Perlindungan Anak dengan Budaya Lokal
Makassar memiliki modal budaya untuk memperkuat perlindungan anak. Nilai sopan santun seperti Siri’ dan Tabe dapat diterjemahkan ke etika digital: tidak mempermalukan orang, tidak menyebar rekaman, dan berani berkata “tidak” saat diajak melakukan hal yang melanggar. Ketika pesan moral dibungkus dalam identitas lokal, anak merasa itu bagian dari “siapa kita”, bukan aturan asing.
Di titik ini, benang merahnya menjadi utuh: menjaga anak dari risiko layar bukan tugas satu pihak. Pemerintah membangun ruang dan kebijakan, sekolah membentuk budaya belajar, komunitas menyediakan aktivitas, dan Orang Tua menjaga rumah tetap hangat dengan aturan yang konsisten. Insight akhirnya: kota yang ramah anak adalah kota yang membuat pilihan sehat lebih mudah daripada pilihan instan.





