Program Kota Surabaya Dukung Ibu Tunggal lewat Pelatihan Keterampilan Kerja

Bagikan di:
Email
Facebook
Twitter
LinkedIn

En bref

  • Kota Surabaya memperluas Dukungan bagi Ibu Tunggal melalui program Pelatihan yang menekankan Keterampilan Kerja dan keberlanjutan usaha.
  • Skema pembinaan kolaboratif pemerintah–kampus menekankan Pemberdayaan dari hulu ke hilir: produksi, kemasan, legalitas, hingga pemasaran digital.
  • Target hasil pelatihan tidak berhenti pada “bisa”, tetapi mendorong Kemandirian dengan tolok ukur penghasilan dan akses pasar yang lebih luas.
  • Gerakan komunitas seperti fun run amal ikut membuka ruang jejaring, modal, dan peluang Pekerjaan bagi keluarga rentan.
  • Fokus 2026 bergeser ke penguatan ekosistem: pendampingan pascapelatihan, penempatan kerja, dan penguatan mental Pengembangan Diri agar dampak Sosial Ekonomi lebih terasa.

Di tengah ritme Kota Surabaya yang kian cepat, isu ketahanan keluarga makin sering dibicarakan—terutama ketika beban ekonomi jatuh di pundak satu orang tua. Para Ibu Tunggal bukan sekadar membutuhkan bantuan sesaat, melainkan akses pada Keterampilan Kerja yang relevan, jaringan yang bisa dipercaya, serta mekanisme pendampingan yang tidak membuat mereka “berjalan sendiri” setelah pelatihan selesai. Dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan dan gerakan komunitas di Surabaya menunjukkan benang merah yang jelas: Pemberdayaan harus hadir dalam bentuk proses yang utuh, dari belajar, mencoba, gagal, hingga akhirnya menemukan pola kerja atau usaha yang stabil.

Gambaran itu terlihat dari dua pendekatan yang saling menguatkan. Di satu sisi, program pemerintah berkolaborasi dengan kampus untuk inkubasi wirausaha dan pembinaan keluarga berpenghasilan rendah, menyiapkan modul manajemen, pencatatan, kemasan, legalitas, sampai pemasaran online. Di sisi lain, kegiatan publik berbasis amal dan partisipasi warga mempertemukan donatur, pelaku usaha binaan, dan masyarakat luas—menciptakan ruang yang lebih manusiawi untuk bertumbuh. Ketika dua arus ini bertemu, peluang Pekerjaan dan jalan menuju Kemandirian terasa lebih mungkin, bukan sekadar slogan.

Program Kota Surabaya untuk Ibu Tunggal: Arah Pemberdayaan lewat Pelatihan Keterampilan Kerja

Dalam peta kebijakan sosial perkotaan, Kota Surabaya menempatkan penguatan keluarga sebagai prioritas yang tidak bisa dipisahkan dari strategi ekonomi. Banyak keluarga yang masuk kategori rentan bukan karena malas bekerja, melainkan karena akses keterampilan, modal, dan jaringan kerja tidak merata. Bagi Ibu Tunggal, tantangan itu berlapis: waktu terbagi antara mengasuh anak dan mencari penghasilan, stamina terkuras oleh kerja domestik, serta tekanan psikologis yang sering tak terlihat. Karena itu, Pelatihan yang efektif di Surabaya cenderung dirancang sebagai “tangga” bertahap: mulai dari kemampuan dasar yang cepat dipraktikkan, lalu naik ke keterampilan teknis, sampai penguatan manajerial.

Di lapangan, program pelatihan yang pro-perempuan biasanya tidak hanya mengajarkan cara membuat produk atau menjalankan jasa, tetapi juga membentuk kebiasaan baru: disiplin waktu, berani menawarkan, memahami kualitas, dan mampu menghitung harga secara rasional. Banyak peserta datang dengan pola pikir “yang penting laku”, padahal tanpa hitungan biaya, kerja keras bisa tetap berujung tekor. Ketika fasilitator membimbing peserta membuat catatan pengeluaran harian—misalnya bahan, gas, ongkos antar, dan biaya kemasan—mereka mulai melihat bahwa laba bukan angka yang muncul belakangan, melainkan keputusan sejak awal.

Untuk menempatkan kebijakan Surabaya dalam konteks yang lebih luas, pembaca bisa membandingkan cara kota-kota lain membangun ekosistem publik melalui literasi dan layanan bergerak. Misalnya, praktik komunitas yang mempopulerkan akses bacaan dan kegiatan edukasi keliling memberi inspirasi tentang bagaimana layanan bisa “mendekat” ke warga, bukan menunggu warga datang. Contoh semacam itu dapat dibaca pada praktik perpustakaan keliling berbasis komunitas, yang relevan dengan gagasan menghadirkan pelatihan di balai RW atau ruang publik terdekat.

Selain itu, Surabaya juga berada dalam ekosistem nasional yang sedang menata ulang kebijakan tenaga kerja dan ekonomi digital. Perubahan ini memengaruhi jenis Keterampilan Kerja yang dibutuhkan: bukan hanya keterampilan manual, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan platform, pembayaran digital, dan promosi berbasis konten. Diskusi tentang transformasi teknologi di pendidikan tinggi, misalnya, memperlihatkan bahwa dunia kampus pun bergerak cepat merespons kebutuhan industri—dan kolaborasi pemerintah daerah dengan universitas menjadi semakin masuk akal. Salah satu bacaan yang mengulas arah tersebut dapat dilihat pada perkembangan AI di perguruan tinggi, yang memberi konteks mengapa modul digital marketing dan pencatatan keuangan kini makin penting.

Di Surabaya, desain pelatihan yang efektif juga mempertimbangkan keterbatasan waktu pengasuhan. Sesi pertemuan yang terlalu panjang sering membuat peserta tidak konsisten hadir. Karena itu, beberapa program memilih pola pertemuan berkala yang padat namun terstruktur, disertai tugas praktik di rumah. Saat tugas itu dibahas bersama, peserta belajar dari pengalaman nyata: ada yang produknya basi karena salah penyimpanan, ada yang kemasannya bocor, ada yang malu menawarkan. Dari situ, dukungan kelompok terbentuk. Insight pentingnya: Pemberdayaan tidak tumbuh dari satu kali kelas, tetapi dari kebiasaan belajar yang dipelihara.

Dengan memahami fondasi program, pembahasan berikutnya akan masuk ke contoh kolaborasi konkret pemerintah dan kampus—bagaimana pendampingan disusun hingga peserta mampu naik kelas dan memperluas pasar.

Kolaborasi Pemkot Surabaya dan Kampus: Inkubasi Wirausaha yang Menyasar Kemandirian Sosial Ekonomi

Model yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah sinergi Pemkot Surabaya dengan institusi pendidikan tinggi untuk menguatkan usaha warga. Salah satu pola yang banyak dibicarakan ialah program inkubasi wirausaha mandiri dan pembinaan peningkatan pendapatan keluarga yang menyasar kelompok perempuan, termasuk mereka yang berada pada lapisan MBR. Format inkubasi ini tidak berhenti pada kelas teori, melainkan memadukan pelatihan, pendampingan, evaluasi, hingga pameran produk. Kunci utamanya adalah konsistensi: rangkaian pertemuan disusun seperti kurikulum mini, sehingga peserta tidak “loncat-loncat” materi.

Dalam praktiknya, pendampingan semacam ini biasanya berlangsung beberapa bulan. Peserta yang sudah memiliki usaha dibantu memperbaiki proses dan meningkatkan skala, sementara yang belum punya diarahkan memilih bidang yang realistis dengan kondisi rumah tangga. Banyak Ibu Tunggal memilih usaha yang bisa dikerjakan di sela mengasuh: katering rumahan, minuman siap saji, jahit sederhana, atau reseller dengan sistem pre-order. Namun tantangan terbesar justru ada pada pengelolaan: stok, arus kas, dan menjaga kualitas agar pelanggan tidak pergi setelah pembelian pertama.

Di titik ini, peran dosen dan fasilitator menjadi pembeda. Mereka membawa perangkat analisis sederhana yang aplikatif—misalnya menghitung HPP per porsi, membuat standar resep, hingga menyusun template laporan kas mingguan. Peserta juga didorong memikirkan identitas merek: nama yang mudah diingat, label yang informatif, dan kemasan yang aman. Legalitas pun masuk agenda, karena banyak usaha kecil terkendala ketika ingin menitipkan produk ke toko modern atau mengikuti pengadaan. Pendek kata, pelatihan menyasar “naik kelas”, bukan sekadar bertahan.

Untuk membantu pembaca melihat kerangka inkubasi secara ringkas, berikut tabel contoh modul yang lazim dipakai dalam pendampingan UMKM perempuan di Surabaya, dengan orientasi hasil yang terukur.

Komponen Pelatihan
Materi Inti
Contoh Hasil yang Diharapkan
Indikator Dampak Sosial Ekonomi
Manajemen Usaha
Rencana kerja, standar operasional, pembagian waktu kerja-ruang keluarga
Jadwal produksi 3x/minggu yang konsisten
Waktu kerja lebih stabil, stres pengasuhan menurun
Laporan Keuangan
Pencatatan kas, HPP, margin, pemisahan uang usaha dan rumah tangga
Rekap mingguan + target laba realistis
Keuangan keluarga lebih terkendali
Pengemasan & Label
Desain label, informasi komposisi, daya tahan produk
Kemasan rapi dan aman untuk pengiriman
Pelanggan repeat order meningkat
Legalitas
NIB, izin dasar, etika dagang
Dokumen legal awal untuk kemitraan
Akses pasar lebih luas
Pemasaran Online
Foto produk, copywriting, marketplace, katalog WhatsApp
Toko online aktif + konten rutin
Peluang Pekerjaan dan omzet meningkat

Program pembinaan yang ditopang kampus juga menarik karena bersifat dua arah. Akademisi belajar dari kasus riil di lapangan: bahan baku yang fluktuatif, pelanggan yang sensitif harga, hingga tantangan distribusi di jam-jam padat kota. Di sisi peserta, mereka mendapat akses pada cara berpikir sistematis. Ketika satu UMKM mengalami masalah—misalnya penjualan turun setelah tren lewat—fasilitator bisa membantu mengubah strategi: mengganti kemasan, menyesuaikan ukuran porsi, atau mengarahkan promosi ke segmen yang lebih tepat.

Di banyak program sejenis, ada target pendapatan yang dijadikan kompas. Angka seperti “mencapai jutaan rupiah per bulan” bukan sekadar pemanis, tetapi menjadi alasan mengapa peserta diminta disiplin hadir. Target yang sering dipakai adalah pendapatan yang cukup untuk menutup kebutuhan dasar keluarga dan biaya pendidikan anak. Pada konteks Surabaya, sasaran sekitar Rp 4 juta per bulan untuk pelaku UMKM binaan menjadi ukuran yang masuk akal—cukup menantang, tetapi masih realistis bila sistem usaha diperbaiki dan akses pasar diperluas.

Perspektif makro juga penting. Ketika negara-negara lain mempercepat pembangunan infrastruktur dan konektivitas, dampaknya terasa hingga tingkat kota: biaya logistik, akses bahan baku, dan mobilitas tenaga kerja berubah. Gambaran luas mengenai bagaimana proyek infrastruktur memengaruhi ekonomi bisa dibaca pada dinamika proyek infrastruktur berskala besar, yang memberi cermin bagaimana konektivitas dapat memperkuat rantai pasok UMKM.

Insight akhirnya jelas: kolaborasi pemerintah–kampus membuat pelatihan terasa “bernyawa” karena peserta tidak hanya diajari, tetapi benar-benar didampingi sampai mampu berdiri sendiri. Setelah ekosistem pembinaan terbentuk, unsur berikutnya yang tak kalah penting adalah keterlibatan publik—di situlah kegiatan komunitas dan amal memberi percepatan jejaring.

Run to Smile dan Dukungan Komunitas: Cara Baru Membuka Peluang Pekerjaan bagi Ibu Tunggal

Di luar ruang kelas dan kantor pemerintahan, Surabaya juga menyaksikan munculnya format Dukungan yang lebih cair: acara publik yang menggabungkan olahraga, donasi, dan promosi produk binaan. Salah satu contoh yang sempat menyita perhatian adalah fun run amal yang mengundang ratusan peserta dan mengarahkan energi kolektif itu untuk pemberdayaan Ibu Tunggal. Dalam kegiatan semacam ini, masyarakat datang bukan sebagai “pemberi bantuan” yang berjarak, melainkan sebagai rekan yang ikut bergerak, berkeringat, dan merayakan perjuangan bersama.

Sebuah fun run yang digelar di ruang publik ikonik Surabaya pada awal 2025 diikuti sekitar 500 pelari. Formatnya sederhana: lari santai, donasi terintegrasi, dan kegiatan pasca-lari yang menampilkan produk. Yang menarik, para peserta banyak yang datang bersama anak dan keluarga. Nuansanya menjadi lebih hangat—seolah kota sedang mengatakan bahwa penguatan keluarga adalah urusan bersama. Setelah garis finis, penghargaan berupa medali bukan sekadar suvenir, tetapi simbol bahwa perjuangan sehari-hari para orang tua tunggal layak diapresiasi.

Aspek lain yang patut dicatat adalah integrasi perlindungan mikro bagi peserta event. Skema proteksi seperti asuransi kecelakaan mikro pada kegiatan publik memperlihatkan perubahan cara pandang: keselamatan bukan tambahan, melainkan bagian dari desain acara. Ada narasi yang lebih modern di sini—bahwa partisipasi sosial bisa dikemas profesional, aman, dan tetap berorientasi dampak.

Dampak yang sering luput dilihat dari kegiatan amal publik adalah efek “etalase”. Ketika produk binaan dipamerkan dan dibagikan—misalnya minuman atau makanan ringan—warga menjadi tahu bahwa di balik label kecil itu ada cerita Pengembangan Diri. Dari satu gelas minuman, percakapan bisa berkembang: “Bisa pesan untuk kantor?” atau “Ada paket untuk acara sekolah?” Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pintu masuk ke order berulang. Dengan kata lain, event amal dapat menjadi jembatan menuju Pekerjaan yang lebih stabil.

Agar dampaknya tidak menguap setelah acara, penyelenggara dan pemangku kepentingan biasanya melakukan langkah lanjutan: menghubungkan pelaku usaha dengan komunitas lari, kantor-kantor yang rutin mengadakan acara, dan kanal promosi lokal. Di sinilah “jejaring” menjadi kata kunci. Tanpa jejaring, modal cepat habis. Dengan jejaring, modal berputar menjadi aktivitas produktif.

Untuk memperjelas bentuk dukungan yang dibutuhkan Ibu Tunggal setelah momen publik selesai, berikut daftar langkah yang sering terbukti efektif bila dijalankan secara konsisten:

  • Pemetaan kebutuhan individu: apakah lebih membutuhkan pekerjaan bergaji tetap, usaha rumahan, atau kombinasi keduanya.
  • Mentoring pascaevent: minimal 4–8 minggu untuk memastikan order pertama tidak berakhir pada komplain kualitas.
  • Rantai pasok sederhana: akses bahan baku yang stabil, termasuk opsi pembelian kolektif agar harga lebih murah.
  • Template promosi: foto produk standar, katalog WhatsApp, dan jadwal unggahan agar pemasaran tidak putus di tengah jalan.
  • Rujukan peluang kerja: tautkan peserta ke pelatihan lanjutan atau lowongan lokal yang sesuai jam pengasuhan.

Menariknya, gagasan dukungan komunitas seperti ini sejalan dengan tren kebijakan di kota-kota lain yang mulai menata mobilitas dan gaya hidup publik demi kualitas hidup. Cara pemerintah mengelola transisi, misalnya pada kebijakan kendaraan listrik dan ruang kota, memberi pelajaran bahwa perubahan sosial membutuhkan desain insentif dan fasilitas yang jelas. Perspektif tersebut dapat dibaca pada pembahasan kebijakan mobil listrik di Jakarta, sebagai perbandingan bagaimana kebijakan publik memengaruhi perilaku warga dan ruang kota—termasuk peluang event komunitas yang aman dan ramah keluarga.

Di Surabaya, pelajaran dari event amal adalah satu: ketika dukungan dibuat menyenangkan dan terbuka, stigma berkurang. Orang tidak lagi melihat ibu tunggal sebagai “objek bantuan”, tetapi sebagai pelaku ekonomi yang punya produk, keterampilan, dan target. Setelah ruang publik membuka pintu, langkah berikutnya adalah memastikan pelatihan teknis benar-benar mengarah pada kompetensi kerja yang diakui pasar.

Keterampilan Kerja yang Paling Dibutuhkan: Dari Menjahit hingga Pemasaran Digital yang Siap Pakai

Di banyak keluarga rentan, kebutuhan paling mendesak adalah penghasilan yang bisa diprediksi. Karena itu, Keterampilan Kerja yang dicari bukan yang paling keren, melainkan yang paling cepat menghasilkan tanpa menambah beban pengasuhan. Dalam konteks Kota Surabaya, pelatihan kerja untuk perempuan sering mengarah pada keterampilan praktis seperti menjahit, tata boga, layanan kebersihan profesional, administrasi sederhana, hingga perawatan lansia. Namun, sejak ekonomi digital makin merata, keterampilan pendukung seperti pemasaran online, pengelolaan katalog, dan layanan pelanggan via chat menjadi sama pentingnya.

Contoh yang mudah dipahami adalah pelatihan menjahit seragam skala kecil. Bagi Ibu Tunggal, menjahit punya keunggulan: bisa dikerjakan di rumah, bisa menerima pesanan bertahap, dan relatif stabil permintaannya karena sekolah, komunitas, dan kantor sering membutuhkan seragam. Tantangannya ada pada standar ukuran dan kualitas jahitan. Pelatihan yang baik tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga mengajarkan “cara kerja industri”: membaca pola, mengejar tenggat, dan mengontrol kualitas sebelum barang dikirim.

Di sisi lain, keterampilan digital membuka peluang bagi mereka yang tidak bisa bekerja fisik berat. Misalnya, seorang ibu yang memiliki ponsel dan koneksi internet bisa dilatih menjadi admin toko online, penulis deskripsi produk, atau pengelola pesanan untuk UMKM lain di lingkungannya. Ini adalah bentuk Pekerjaan yang sering tidak terlihat, tetapi sangat dibutuhkan. Banyak UMKM tumbang bukan karena produknya jelek, melainkan karena respon chat lambat dan pencatatan pesanan berantakan. Ketika ibu tunggal mengambil peran ini, ia tidak hanya membantu diri sendiri, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha lokal.

Dalam program pelatihan yang matang, modul biasanya disusun untuk menyeimbangkan hard skill dan soft skill. Hard skill mencakup teknik produksi (menjahit, memasak, membuat minuman, desain kemasan). Soft skill mencakup komunikasi, negosiasi, dan manajemen emosi saat menghadapi komplain pelanggan. Soft skill sering diremehkan, padahal justru menjadi penentu apakah pelanggan kembali atau tidak.

Agar lebih konkret, bayangkan tokoh fiktif bernama Rani, ibu tunggal dengan satu anak usia SD di Surabaya Barat. Rani awalnya bisa menjahit dasar, tetapi hanya untuk kebutuhan rumah. Setelah mengikuti pelatihan, ia belajar membuat standar ukuran, menghitung biaya benang-kain, serta membuat jadwal pengerjaan. Dalam dua bulan, ia mulai menerima pesanan kecil dari tetangga. Pesanan itu tidak langsung besar, tetapi stabil. Ketika pelatihan menambahkan materi pemasaran digital, Rani membuat katalog WhatsApp sederhana berisi foto sebelum-sesudah, daftar harga, dan estimasi waktu. Dari situ, pesanan datang dari grup wali murid. Dampak Sosial Ekonomi muncul bukan karena “viral”, melainkan karena sistem kerja rapi dan komunikasi profesional.

Penguatan skill juga perlu mempertimbangkan realitas biaya hidup. Pada 2026, banyak keluarga merasakan harga kebutuhan yang naik-turun, sehingga usaha harus punya strategi adaptif: ukuran porsi fleksibel, paket hemat, atau sistem pre-order untuk menghindari stok menumpuk. Pelatihan yang responsif akan mendorong peserta membuat skenario: apa yang dilakukan jika harga bahan naik 10%? Apakah menaikkan harga, mengubah ukuran, atau mencari pemasok baru? Kemampuan mengambil keputusan ini adalah inti dari Kemandirian.

Terakhir, keterampilan kerja yang “siap pakai” selalu membutuhkan pengakuan sosial: portofolio, testimoni, dan bukti hasil. Karena itu, gelar produk atau pameran hasil pelatihan bukan seremoni. Ia menjadi alat pembuktian bahwa peserta layak dipercaya. Insight penutup bagian ini: keterampilan yang paling berharga adalah yang mampu mengubah waktu terbatas menjadi nilai ekonomi yang konsisten, tanpa mengorbankan martabat.

Strategi Keberlanjutan: Dari Pelatihan ke Penempatan Kerja dan Pengembangan Diri Berbasis Dukungan

Pelatihan yang baik dapat mengubah cara seseorang bekerja, tetapi keberlanjutan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah sertifikat dibagikan. Banyak program gagal bukan karena materinya lemah, melainkan karena tidak ada jembatan menuju pasar atau penempatan kerja. Untuk Ibu Tunggal, jembatan itu harus mempertimbangkan jam pengasuhan, akses transportasi, dan keamanan kerja. Kota Surabaya memiliki peluang besar untuk memperkuat “jalur transisi” ini melalui kemitraan dengan pelaku usaha lokal, koperasi, dan komunitas warga.

Strategi pertama adalah mengembangkan sistem rujukan kerja yang lebih ramah keluarga. Misalnya, pelatihan menjahit dapat dihubungkan dengan unit produksi seragam di tingkat kelurahan atau konveksi yang mau menerima skema kerja borongan dari rumah. Pelatihan kuliner dapat dihubungkan dengan dapur bersama untuk pesanan besar saat musim hajatan. Pelatihan digital dapat dihubungkan dengan UMKM yang butuh admin marketplace. Mekanisme rujukan ini tidak harus rumit; yang dibutuhkan adalah kurasi: memastikan tempat kerja atau mitra memiliki standar pembayaran jelas dan menghargai waktu peserta.

Strategi kedua adalah memperpanjang masa pendampingan dengan model ringan. Alih-alih pendampingan intensif yang mahal, program bisa memakai sistem klinik mingguan: peserta datang membawa masalah nyata (penjualan turun, komplain, bingung harga), lalu fasilitator membantu mencari solusi. Pola ini menjaga semangat belajar tanpa membuat peserta terbebani jadwal panjang. Di sinilah Pengembangan Diri menjadi kebiasaan, bukan acara.

Strategi ketiga adalah memperkuat literasi proteksi dan manajemen risiko. Banyak keluarga rentan jatuh kembali ketika ada kejadian kecil: anak sakit, alat rusak, atau kecelakaan kerja ringan. Kegiatan publik yang memasukkan unsur proteksi mikro memberi contoh bahwa perlindungan bisa dirancang sederhana. Dalam konteks usaha rumahan, literasi risiko bisa berupa dana darurat mini, perawatan alat berkala, dan pemisahan uang usaha agar tidak habis untuk kebutuhan harian mendadak.

Strategi keempat adalah memaksimalkan kanal pemasaran lokal. Surabaya punya pasar berbasis komunitas yang kuat: grup RT/RW, koperasi sekolah, komunitas olahraga, dan jaringan pengajian. Program kota dapat memfasilitasi katalog produk lintas wilayah agar pelaku usaha tidak hanya menjual di lingkar tetangga dekat. Ketika pasar melebar, pendapatan lebih stabil. Di sini, tujuan Pemberdayaan terlihat nyata: peserta bukan hanya “punya usaha”, tetapi punya akses pasar.

Strategi kelima—yang sering terlupakan—adalah dukungan psikososial. Ibu tunggal kerap mengalami kelelahan mental karena memikul banyak peran. Pelatihan yang menyisipkan sesi komunikasi, manajemen stres, dan dukungan teman sebaya justru meningkatkan ketahanan peserta. Pertanyaan retoris yang sering muncul di sesi seperti ini adalah: bagaimana bisa mengembangkan usaha jika rasa takut dan rasa bersalah terus menekan? Saat peserta menyadari bahwa mereka tidak sendiri, kapasitas bertahan meningkat.

Semua strategi tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: membangun ekosistem yang membuat keterampilan berubah menjadi penghasilan, lalu penghasilan berubah menjadi rasa aman. Ketika rasa aman hadir, pilihan hidup menjadi lebih luas—dan di situlah Kemandirian tidak lagi menjadi kata yang jauh, melainkan pengalaman sehari-hari di Kota Surabaya.

Berita terbaru